Tampilkan postingan dengan label Cerita Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Islami. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Januari 2013

APAKAH KEBAHAGIAAN ITU???





Seorang rekan kerja pernah menanyakan kepada saya mengenai, “Apakah Kebahagiaan Itu?”. Pertanyaan yang sangat sederhana, tetapi membutuhkan jawaban yang tidak sederhana. Kebahagian adalah kalau diibaratkan seperti sifat benda adalah gas, tidak terlihat tetapi dapat dirasakan. Untuk menjawab pertanyaan rekan saya tersebut, mungkin cerita di bawah ini bisa dijadikan sebagai jawaban/renungan.

Sepasang suami isteri yang bekerja sebagai petani sedang berlari-lari kecil melewati pinggiran jalan sambil sesekali berteduh untuk menghindari hujan. Sambil bergandengan keduanya berlari. Pada saat itu mereka berpapasan dengan suami isteri yang menaiki sepeda sambil membawa payung. Petani tersebut berkata kepada isterinya, “Alangkah bahagianya bila kita memiliki sepeda, kita dapat sampai di rumah lebih cepat”.

Tetapi apa yang ada di benak suami isteri yang menaiki sepeda, ternyata waktu di jalan mereka berpapasan dengan suami isteri yang menaiki sepeda motor. Suami yang naik sepeda berkata kepada isterinya, “Alangkah bahagianya bila kita memiliki sepeda motor, aku tidak harus capek-capek mengayuh sepeda ini”.

Tetapi apa yang ada di benak suami isteri yang menaiki sepeda motor, ternyata waktu di jalan mereka berpapasan dengan suami isteri yang menaiki mobil bak terbuka. Suami yang naik sepeda motor berkata kepada isterinya, “Alangkah bahagianya bila kita memiliki mobil bak terbuka, kita tidak harus kehujanan seperti ini”.

Tetapi apa yang ada di benak suami isteri yang menaiki mobil bak terbuka, ternya waktu di jalan mereka berpapasan dengan sebuah mobil mewah. Suami yang menaiki mobil bak terbuka berkata kepada isterinya, “Alangkah bahagianya orang yang naik mobil mewah itu, setidaknya mobil tersebut enak tidak seperti mobil kita ini”.

Tapi apakah kita tahu bagaimana perasaan orang yang sedang duduk di mobil mewah tersebut. Apakah ia bahagia dengan mobil mewahnya?. Ternyata orang yang sedang naik mobil mewah tersebut ketika berpapasan dengan suami isteri petani yang sedang jalan kaki dalam hatinya berkata, “Alangkah bahagia dan romantisnya mereka, berjalan kaki sambil bergandengan tangan. Aku walaupun naik mobil mewah tetapi aku tidak tahu dimana isteriku sekarang berada”.

Bagaimana dengan anda, Apakah anda bahagia saat ini ?

Sumber : Mimbar Dakwah Islam


Jumat, 28 Desember 2012

KUCARI CINTA DIANTARA CINTA




Diary hati, Ramadhan 1422 H

Cintaku kepada-Mu tidak mungkin bisa terbagi. Aku cinta bukan karena mengharap surga-Mu tapi murni sebagai wujud pengabdian yang tulus terlepas apapun balasan-Mu. Bukankah Rabi'ah al-'Adawiah pernah berkata: "Tuhanku, kalau aku mengabdi kepada-Mu karena takut akan api neraka, masukanlah aku pada neraka itu, dan besarkanlah tubuhku dalam neraka itu, sehingga tidak ada tempat lain di neraka itu bagi hamba-hamba-Mu yang lain. Kalau aku menyembahmu berharap mendapatkan surga, berikan surga itu kapada hamba-hamba-Mu yang lain sebab bagiku Engkau sudah cukup".

Aku hamba yang bercita-cita memiliki cinta seperti Rabi'ah al-'Adawiah, tapi kenyataannya masih jauh dari harapan. Hatiku masih tertambat pada selain-Mu. Tidak seperti Rabi'ah al-Adawiah yang tegas menolak lamaran Gubernur Sofyan Ast-Tsauri karena cintanya kepada-Mu tidak mau terbagi. Tapi aku tetap merindukan seseorang yang kini selalu masuk dalam mimpiku. Ya Allah, dosakah aku? Ketaatan dia pada aturan-Mu yang menarik hatiku.

Tutur katanya yang penuh hikmat telah menyentuh hatiku. Saat dia menyampaikan ayat-ayat-Mu seolah aku melihat seorang arjuna tengah mengkhitbahku. Rasa cintaku bertambah terutama usai kegiatan Ramadhan ketika aku tidak melihatnya sebanyak aku melihatnya pada bulan Ramadhan. Tapi semoga kau memahami kegalauan hatiku. Bukankah kau ciptakan laki-laki sebagai pasangan wanita? Jika ya, izinkan aku ingin memiliki arjuna yang aku dambakan.

Jika dia baik bagiku, sampaikan bisikan hatiku, Jika tidak baik bagiku, tolong lenyapkan bayang-bayang wajahnya.
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (QS. Ar-Ruum: 21).

Sebagai muslimah yang taat, aku sering istighfar saat tak sengaja memandangnya dengan penuh rasa cinta. Dosakah aku? Bahkan secara sadar aku ingin dia memandangiku. Riyakah aku? Semoga tidak. Tapi sebagai seorang wanita, rasa cintaku hanya bergemuruh di kalbu tak mampu aku ungkapkan. Atau wanita memang diciptakan untuk diam seribu basa ketika segudang cinta tertambat di dada?

Diary hati, Shafar 1423 H
Tapi sayang sekali gemuruh dada itu kini harus lenyap. Cintaku pada laki-laki itu harus bertepuk sebelah tangan. Sebagai hamba yang lemah, aku telah sukses menunjukkan kelemahanku. Aku hanya bisa berharap tapi tidak bisa berbuat banyak. Aku memang bodoh tak pandai merayu, tapi aku hargai kebodohanku. Kini kumbang itu telah mengkhitbah bunga yang juga tetanggaku.
Tapi bukankah khitbah bukan berarti nikah. Belum tentu pertunangan itu berlanjut pada pernikahan. Karenanya izinkan aku masih merindukannya walaupun di hatinya sudah ada yang lain (?). Tapi aku tidak mau mendo'akan agar pertunangannnya bubar. Aku hanya mampu berharap, Engkaulah ya Allah! yang Maha Adil, aku siap menerima apapun keputusan-Mu.

Diary hati, Sa'ban 1423 H
Kini di tengah kerumunan undangan aku tak sedikit pun merasa bersedih karena aku telah siap menerima segala keputusan-Mu. Aku ucapkan selamat atas pernikahannya. Aku do'akan semoga rumah tangganya sakinah dan dikaruniai keturunan yang shaleh dan shaleha.
Namun cintaku pada si dia tetap tidak berubah aku tetap mencintainya walaupun tidak mungkin memilikinya (?).
Hanya Engkau ya Allah Yang Mahatahu segalanya.

Dikutip dari buku "Nurani Cinta Yang Hilang", Abu Al-Ghifari, Penerbit Mujahid Press



DERITA SAKARATUL MAUT KARENA LEBIH MENGUTAMAKAN ISTERI LEBIH DARI IBUNYA





Di zaman Rasulullah ada seorang pemuda yang bernama Alqomah, ia sangat rajin beribadat. Suatu hari ia tiba-tiba jatuh sakit yang sangat kuat, maka isterinya menyuruh orang memanggil Rasulullah dan mengatakan suaminya sakit kuat dan dalam sakaratul maut. Ketika berita ini sampai kepada Rasulullah, maka Rasulullah menyuruh Bilal r.a, Ali r.a, Salamam r.a dan Ammar r.a supaya pergi melihat keadaan Alqomah. Ketika mereka sampai ke rumah Alqomah, mereka terus mendapatkan Alqomah sambil membantunya membacakan kalimah La-ilaa-ha-illallah, tetapi lidah Alqomah tidak dapat menyebutnya.

Ketika para sahabat mendapati bahwa Alqomah pasti akan mati, maka mereka menyuruh Bilal r.a supaya memberitahu Rasulullah tentang keadaan Alqomah. Ketika Bilal sampai dirumah Rasulullah, maka bilal menceritakan segala hal yang berlaku kepada Alqomah. Lalu Rasulullah bertanya kepada Bilal; "Wahai Bilal apakah ayah Alqomah masih hidup?" jawab Bilal r.a, " Tidak, ayahnya sudah meninggal, tetapi ibunya masih hidup dan sangat tua usianya". Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata kepada Bilal; "Pergilah kamu kepada ibunya dan sampaikan salamku, dan katakan kepadanya kalau dia dapat berjalan, suruh dia datang berjumpaku, kalau dia tidak dapat berjalan katakan aku akan kerumahnya".

Maka ketika Bilal sampai kerumah ibu Alqomah, lalu ia berkata seperti yang Rasulullah kata kepadanya, maka berkata ibu Alqomah; " Aku lebih patut pergi berjumpa Rasulullah". Lalu ibu Alqomah mengangkat tongkat dan terus berjalan menuju ke rumah Rasulullah. Maka bertanya Nabi s.a.w. kepada ibu Alqomah; "Terangkan kepada ku perkara yang sebenar tentang Alqomah, jika kamu berdusta nescaya akan turun wahyu kepadaku". Berkata Nabi lagi; "Bagaimana keadaan Alqomah?", jawab ibunya; "Ia sangat rajin beribadat, ia sembahyang, berpuasa dan sangat suka bersedekah sebanyak-banyaknya sehingga tidak diketahui banyaknya". Bertanya Rasulullah; "Bagaimana hubungan kamu dengan dia?", jawab ibunya; " Aku murka kepadanya", lalu Rasulullah bertanya; "Mengapa", jawab ibunya; "Kerana ia mengutamakan istrinya dari aku, dan menurut kata-kata isterinya sehingga ia menentangku".

Maka berkata Rasulullah; "Murka kamu itulah yang telah mengunci lidahnya dari mengucap La iilaa ha illallah", kemudian Nabi s.a.w menyuruh Bilal mencari kayu api untuk membakar Alqomah. Ketika ibu Alqomah mendengar perintah Rasulullah lalu ia bertanya; "Wahai Rasulullah, kamu hendak membakar putera ku didepan mataku?, bagaimana hatiku dapat menerimanya". Kemudian berkata Nabi s.a.w; "Wahai ibu Alqomah, siksa Allah itu lebih berat dan kekal, oleh itu jika kamu mahu Allah mengampunkan dosa anakmu itu, maka hendaklah kamu mengampuninya", demi Allah yang jiwaku ditangannya, tidak akan guna sembahyangnya, sedekahnya, selagi kamu murka kepadanya". Maka berkata ibu Alqomah sambil mengangkat kedua tangannya; "Ya Rasulullah, aku persaksikan kepada Allah dilangit dan kau Ya Rasulullah dan mereka-mereka yang hadir disini bahawa aku redha pada anakku Alqomah".

Maka Rasulullah mengarahkan Bilal pergi melihat Alqomah sambil berkata; "Pergilah kamu wahai Bilal, lihat sama ada Alqomah dapat mengucapkan La iilaa ha illallah atau tidak". Berkata Rasulullah lagi kepada Bilal ; "Aku khuatir kalau kalau ibu Alqomah mengucapkan itu semata-mata kerana pada aku dan bukan dari hatinya". Maka ketika Bilal sampai di rumah Alqomah tiba-tiba terdengar suara Alqomah menyebut; "La iilaa ha illallah". Lalu Bilal masuk sambil berkata; "Wahai semua orang yang berada disini, ketahuilah sesungguhnya murka ibunya telah menghalangi Alqomah dari dapat mengucapkan kalimah La iila ha illallah, kerana redha ibunyalah maka Alqomah dapat menyebut kalimah syahadat". Maka matilah Alqomah pada waktu setelah dia mengucap.

Maka Rasulullah s.a.w pun sampai di rumah Alqomah sambil berkata; "Segeralah mandi dan kafankan", lalu disembahyangkan oleh Nabi s.a.w. dan sesudah dikuburkan maka berkata Nabi s.a.w. sambil berdiri dekat kubur; "Hai sahabat Muhajirin dan Anshar, barang siapa yang mengutamakan isterinya daripada ibunya maka ia adalah orang yang dilaknat oleh Allah s.w.t, dan tidak diterimanya daripadanya ibadat fardhu dan sunatnya.

Sumber : Mimbar Dakwah Islam


CINTAMU MEMBAWAKU KE SURGA





Bismillahirrahmanirrahiim


Ukhti fillah, syukur Alhamdulillah senantiasa kita panjatkan kepadaNya atas berkat Rahmat-Nya yang masih mempertemukan kita melalui note kecil ini. Semoga bermanfa'at

Amma Ba'du


Al-Mubarrid menyebutkan dari Abu Kamil dari Ishaq bin Ibrahim dari Raja' bin Amr An-Nakha'i, ia berkata:

"Adalah di Kufah, terdapat pemuda tampan, dia kuat beribadah dan sangat rajin. Suatu saat dia mampir berkunjung ke kampung dari Bani An-Nakha'. Dia melihat seorang wanita cantik dari mereka sehingga dia jatuh cinta dan kasmaran. Dan ternyata, si wanita cantik ini pun begitu juga padanya. Karena sudah jatuh cinta, akhirnya pemuda itu mengutus seseorang melamarnya dari ayahnya.

Tetapi si ayah mengabarkan bahwa putrinya telah dijodohkan dengan sepupunya. Walau demikian, cinta keduanya tak bisa padam bahkan semakin berkobar. Si wanita akhirnya mengirim pesan lewat seseorang untuk si pemuda, bunyinya, "Aku telah tahu betapa besar cintamu kepadaku, dan betapa besar pula aku diuji dengan kamu. Bila kamu setuju, aku akan mengunjungimu atau aku akan mempermudah jalan bagimu untuk datang menemuiku di rumahku".

Dijawab oleh pemuda tadi melalui orang suruhannya, "Aku tidak setuju dengan dua alternatif itu. "Sesungguhnya aku merasa takut bila aku berbuat maksiat pada Rabbku akan adzab yang akan menimpaku pada hari yang besar." [QS Yunus: 15] Aku takut pada api yang tidak pernah mengecil nyalanya dan tidak pernah padam kobarannya."

Ketika disampaikan pesan tadi kepada si wanita, dia berkata: "Walau demikian, rupanya dia masih takut kepada Allah? Demi Allah, tak ada seseorang yang lebih berhak untuk bertakwa kepada Allah dari orang lain. Semua hamba sama-sama berhak untuk itu." Kemudian dia meninggalkan urusan dunia dan menyingkirkan perbuatan-perbuatan buruknya serta mulai beribadah mendekatkan diri kepada Allah.

Akan tetapi, dia masih menyimpan perasaan cinta dan rindu pada sang pemuda. Tubuhnya mulai kurus dan kurus menahan perasaan rindunya, sampai akhirnya dia meninggal dunia karenanya. Dan si pemuda itu seringkali berziarah ke kuburannya, dia menangis dan mendo'akannya. Suatu waktu dia tertidur di atas kuburannya. Dia bermimpi berjumpa dengan kekasihnya dengan penampilan yang sangat baik. Dalam mimpi dia sempat bertanya:

"Bagaimana keadaanmu? Dan apa yang kau dapatkan setelah meninggal?"

Dia menjawab: "Sebaik-baik cinta wahai orang yang bertanya adalah cintamu. Sebuah cinta yang dapat menggiring menuju kebaikan".

Pemuda itu bertanya: "Jika demikian, kemanakah kau menuju?"

Dia jawab: "Aku sekarang menuju pada kenikmatan dan kehidupan yang tak berakhir. Di Surga kekekalan yang dapat kumiliki dan tidak akan pernah rusak."

Pemuda itu berkata: "Aku harap kau selalu ingat padaku di sana, sebab aku di sini juga tidak melupakanmu."

Dia jawab: "Demi Allah, aku juga tidak melupakanmu. Dan aku meminta kepada Tuhanku dan Tuhanmu (Allah Subha-nahu wa Ta'ala) agar kita nanti bisa dikumpulkan. Maka, bantulah aku dalam hal ini dengan kesungguhanmu dalam ibadah."

Si Pemuda bertanya: "Kapan aku bisa melihatmu?"

Jawab si wanita: "Tak lama lagi kau akan datang melihat kami."

Tujuh hari setelah mimpi itu berlalu, si pemuda dipanggil oleh Allah menuju kehadiratNya, meninggal dunia.


“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (QS.Maryam:96)

...Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya... ” (QS.Ath Thalaaq:11)

Sumber : Mimbar Dakwah Islam